- Wakili DPRD Se-Indonesia, Ketua DPRD Maluku Beri Sambutan Dalam Acara Ramah Tamah Retret di Magelang
- Berbagi Kasih, Rutan Ambon Salurkan Bantuan untuk Keluarga Warga Binaan
- Gelar Razia di Rutan Ambon, Plt Karutan : Hasilnya Seluruh Tahanan Nihil dari Narkoba dan HP
- Jaga Stabilitas Kamtib di Rutan, Plt Karutan Ambon Tingkatkan Pengawasan Wartelus
- Majelis Taklim AL Musyawarah Sekretariat DPRD Provinsi Maluku Bagi - Bagi Takjil ke Masyarakat
- Farhatun Samal Resmi Jabat Sekwan Defenitif DPRD Maluku
- Dukung Program Swasembada Pangan Nasional, Polsek Waisarissa Gelar Kegiatan Panen Daya Jagung di Des
- Fraksi PAN Amanat Persatuan Minta Pinjaman Daerah Harus Adil dan Merata
- Irawadi Dorong Percepatan Akselerasi Pembangunan di Maluku
- Sekretaris DPRD Maluku Resmi Dikukuhkan Jabat Wakil Ketua I ASDEPSI
Keluarga Pasien Covid-19 di MBD Berdemo di Lokasi Karantina

Tiakur, malukuupdate.com - Anggota keluarga salah seorang pasien positif terinfeksi virus Corona di kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), melakukan aksi demo di lokasi karantina terpusat di Perumahan Pemda di Kota Tiakur, untuk menyampaikan ketidak puasannya terkait penanganan yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat terhadap para pasien.
"Kami ingin Gugus Tugas lebih terbuka terhadap hasil pemeriksaan dan perawatan tiga pasien positif Covid-19, karena kenyataan sudah hampir dua bulan diisolasi, mereka belum juga sembuh," kata Oyang Pitan, suami dari salah satu pasien Covid-19, saat melakukan aksi demo di lokasi karantina terpusat, di Tiakur, Rabu (24/6).
Di hadapan Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kabupaten MBD Alfonsius Siamiloy, Oyang yang datang bersama beberapa anggota keluarganya mengeluhkan masa karantina dan terhadap isolasi istrinya yang tidak jelas, karena sudah hampir dua bulan tidak kunjung sembuh, dan terus diperpanjang.
Baca Lainnya :
- DPRD Maluku Nilai Anggaran Rp23 Miliar Untuk JPS Terlalu Kecil0
- Polres MBD Ringkus Satu Pengguna Shabu0
- Bupati Taher Hanubun Apresiasi Kinerja DPRD Malra0
- Personil Brimob di MBD Lakukan Penyemprotan Disinfektan0
- Personil Brimob Pelopor Berbagi Sarapan Pagi Dengan Pemecah Batu di Tual0

Oyang yang disampingi sejumlah anggota keluarganya menyatakan mempertanyakan hasil tes swap PCR (Polymerase Chain Reaction) yang sudah dilakukan beberapa kali, tetapi tidak pernah diperlihatkan kepada pihak keluarga pasien.
"Gugus Tugas tidak terbuka dengan kami terkait hasil swap PCR yang sudah dilakukan beberapa kali. Selama ini Gugus Tugas hanya memberikan keterangan bahwa hasil swapnya masih positif, sehingga pasien masih dikarantina, tetapi buktinya tidak pernah diperlihatkan. Sebagai suami saya berhak tahu kondisi kesehatan yang sebenarnya dari istri saya. jangan ditutup-tutupi," ujarnya dengan suara keras.
Dirinya menginginkan adanya keterbukaan pihak Gugus Tugas dalam setiap proses penanganan kesehatan pasien Covid-19, sehingga seluruh masyarakat dapat lebih memahami berbagai langkah yang telah dilakukan terhadap para pasien dalam memutus mata rantai penyebaran pandemi tersebut.
"Sebagai keluarga kita menginginkan yang terbaik dan mendukung pelayanan kesehatan terhadap para pasien Covid-19. Namun jangan hanya sekedar janji kosong dan isapan jempol semata. Perlu disertai bukti-bukti konkrit khususnya hasil PCR diperlihatkan kepada keluarga, agar kami memahami kondisi dan situasi yang sebenarnya," ujarnya.
Oyang juga mengaku tidak puas dengan penentuan lokasi karantina terhadap para pasien, karena terkesan pilih kasih, padahal lima pasien positif Covid-19 yang ada saat ini seluruhnya berstatus orang tanpa gejala (OTG).
"Masa tiga pasien yang merupakan pelaku perjalanan dikarantina di Perumahan Pemda, sedangkan dua tenaga medis di perumahan dokter. Ini bentuk ketidakadilan. Seharusnya semua pasien positif dikarantina di perumahan pemda yang dijadikan lokasi karantina terpusat," katanya.
Jika ingin memutus mata rantai penyebarannya, maka dia menginginkan seluruh pasien terinfeksi Corona dikarantina secara terpisat di satu lokasi saja dan tidak dibeda-bedakan, apalagi keseluruhan mereka statusnya OTG, artinya kondisi mereka tetap sehat.
Dia menambahkan, aksi demo bersama anggota keluarga pasien yang lain, bukan untuk mendesak Gugus Tugas mengeluarkan atau memulangkan para pasien karena telah melewati masa karantina 14 hari setelah pertama kali dinyatakan positif, tetapi mereka menginginkan pemerataan pelayanan kesehatan kepada semua pasien, sehingga penanganannya lebih optimal. (JW)











